Jawaban

“Saya masih bingung, kenapa ananda sekarang tidak mau main lagi dengan teman sekitar rumah. Padahal semasa SD terbiasa main dengan anak tetangga?” Cerita salah satu asatidzah kepada musyrif menyampaikan keluhan perubahan pada diri ananda.

“Itu biasa terjadi, berarti ada temuan yang ananda lihat pada diri teman² sekitar rumah kurang berkenan. Sehingga ananda menghindar dari pergaulannya, semata-mata untuk melindungi diri. Sebaiknya antum tanyakan kepada ananda, ‘Kamu kenapa Le..? Semenjak mondok kok jarang main lagi dengan teman² sekitar rumah. Ada apa to..?’ In syaa Allah ananda punya jawaban yang tepat sebagai alasannya.”

Protes

Santri protes, “Afwan ustadz, rekap indisipliner keluar asrama sekarang semakin ketat saja. Baru tercatat 3X terlambat sudah harus buat surat pernyataan komitmen.” Musyrif mengernyitkan dahi sambil balas komentarnya, “Setelah itu antum berubahkan…tidak terlambat keluar asrama lagi?”

“Ana takut melanggar lagi..hingga surat pernyataan komitmennya dishare ke ortu. Apalagi sampai kena sangsi lebih.” Santri berdalih.

“Itu belajar disiplin, tanpa aturan pondok sama seperti hutan belantara.”

Renung

Ayah renungi kalimat ade: Sakit dianggap lalai menjaga kesehatan.. “Kenapa setelah sembuh dihukum 100X push up?” gumam ayah. Terasa sesak dalam dada miris juga sakit kok dihukum.

Ketika penjengukan berikutnya ayah tak kuasa menahan tanya, “Ade, terus terang saja ayah sampai saat ini tidak menerima kalau semisal kamu sakit dihukum di LPK. Bagaimana menurut kamu? Setujukah perlakuan tersebut?” Jawabnya spontan, “Aku terima…tak masalah, aku ingin selalu sehat, agar ayah tidak khawatir selama aku di Jepang.”

Ayah tak kuasa menahan sesak tangis, dalam hatinya berkata: “Apakah di pondok, santriku mau menerima perlakuan hukuman atas sakitnya yaa…”

Lalai

“Ade…sudah 2 bulan masuk karantina LPK belajar Bahasa Jepang, bosankah?” Tanya ayah kepada si bungsu.
“Tak sempat bosan yah…kegiatannya padat. Mulai pagi, 1 jam sebelum adzan Subuh, sudah harus bangun merapikan kasur ditata menempel pada dinding karena tak ada ranjang tidur hanya beralaskan kasur di lantai dengan jarak ½ meter antar teman sebelah sesama siswa LPK.” Lanjutnya, “Setelah Shalat Subuh wajib baca Alquran selama 30 menit kemudian olahraga senam bersama dan lari 10 putaran lapangan sepakbola sekitar area tersebut.” Ayah meneruskan, “Mirip saat kamu mondok yaa…yang bedakan tak ada olahraga bersamanya.”

“Ada 1 lagi yang membedakan yah…kami tidak boleh sakit?” Ayah kaget, “Kok bisa?”

“Kalau sakit, setelah pulih dihukum 100X push up. Karena sakit dianggap lalai menjaga kesehatan.”

Kelola sehat

Pepatah latin mengatakan: Mens sana in corpore sano arti terjemahan bebasnya bahwa Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Maknanya Kelola sehat jangan sampai sakit, karena akan mengganggu jiwa kita. Berarti sakit merupakan kelalaian diri yang harus dihindari.

Semoga kita senantiasa sehat jiwa di dunia…Allah musta’an.

Raih

“Ana lihat rekapan di wag, antum sering terlambat keluar asrama…kenapa?” Tanya musyrif kepada santrinya.

“Ana antri hammam, ustadz…” ujar santri secara diplomatis, “Kadang bersihkan ranjang atau kamar terlebih dahulu.”

“Ana lihat antum jenuh dengan aktifitas keseharian pondok, sebaiknya luruskan kembali niatnya menjadikan pondok sebagai rumah tarbiyah yang merawat fitrah menuju pribadi dewasa dan berkarakter muslim.” Santri tertunduk malu, “Usir rasa malas dalam diri, dan raih ridho Allah Ta’ala agar mudahkan menuntut ilmu…”

Siluman

Fenomena santri bosan di pondok seringkali kamar dijadikan tempat kumpul (nongkrong) santri sehingga kamar tak pernah bersih rapi. Akhirnya musyrif bertindak keluarkan ultimatum bahwasanya: Bagi santri yang bertamu cukup di teras saja tidak boleh masuk kamar. Musyrif menambahkan, “Siluman tidak boleh berada di kamar”. Santri bertanya, “Siluman itu apa?” Jawab musyrif, “Siluman itu selain penghuni kamar ini…”

Jenuh

“Antum anak ke berapa dari berapa bersaudara?” Tanya Musyrif kepada santri adhonya. “Anak kedua dari tiga bersaudara, ustadz…yang pertama di IM kelas 12, adik ana kelas 5..”

Musyrif melanjutkan, “Berarti tahun depan adikmu daftar seleksi PSB di sini yaa..” santrinya langsung potong, “Tidak ustadz, ana suruh daftar lain saja..”
Musyrif kaget, “Loh, kenapa?..” Jawabnya: “Jenuh ustadz…ana mengalami jenuh di kelas 8, abang ana di kelas 11 juga merasa bosan lalu rambu-rambu pelanggaran kami terjang!”

Musyrif tertegun sejenak…”Itu tanda fitrah kalian terganggu, hakikatnya manusia senantiasa terjaga fitrahnya dalam kebaikan. Coba antum luruskan visi misi menjadikan pondok rumah tarbiyah..” Musyrif melanjutkan, “Antum giatkan kembali amalan sunnah yang utama saja dulu seperti shalat Fajar sebelum Subuh dan dzikir pagi petang, rutinkan sepekan lalu pertahankan hingga mampu menambah mengerjakan amalan sunnah lainnya. In syaa Allah kejenuhan pudar, you are not alone…ada Allah yang Maha Pencipta mengawasi”

Lémés

“Afwan ustadz, kenapa penyelesaian kasus di pondok menggunakan pendekatan bebas melaporkan pelanggaran yang dilakukan orang lain (santri) secara edukasi mengajarkan ananda lémés alias tukang lapor…” curhat walsan yang tidak menerima ananda terbawa masalah.

Musyrif jawab, “Ana berfikir sebaliknya, bersyukur karena ananda diputus rantai pelanggarannya…ambil contoh terdapat santri merokok/vape (rokok elektrik) dilaporkan temannya…alhamdulillah itu sebagai momentum menghentikan rantai candu rokok/vape yang dilarang agama sesuai fatwa MUI mengharamkannya.”

Rawat

Merawat fitrah itu identik dengan konsisten yakni memastikan segala sesuatu secara tertib, teratur dan disiplin dalam menampilkan figur seorang muslim…ananda butuh kesabaran menjaga sikap baiknya.

Kadang nilai akhlak seseorang yang mudah naik-turun perlu dipelihara secara fitrah karena rawan goyah oleh hasrat ananda yang masih pencitraan diri…Allah musta’an